Sumut Kehilangan Oegroseno
Jabatan Kapoldasu diserahterimakan dari Irjen Pol Drs Oegroseno SH kepada Irjen Pol Drs Wisjnu Amat Sastro SH dalam suatu upacara yang berlangsung di Lapangan KS Tubun Mapoldasu Jalan Medan-Tanjung Morawa, Rabu (23/3/2011) pagi.
Oegroseno selanjutnya harus meninggalkan masyarakat Sumut untuk mengemban tugas barunya sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) Mabes Polri.
Sejak menjabat Kapoldasu pada Maret 2010, banyak sekali kesan baik yang ditinggalkan lulusan terbaik ke-2 Akpol Angkatan 1978 itu kepada masyarakat Sumut. Wajar bila banyak yang merasa kehilangan sosok polisi yang ramah, santun, komunikatif, dan terbuka kepada siapapun itu.
Selama menjabat Kapoldasu Oergroseno bukan hanya peduli pada tugas rutinitas di bidang keamanan dan ketertiban semata, tetapi juga mampu melakukan upaya pembinaan kepada berbagai aspek dan lapisan masyarakat.
Ia sosok Kapolda yang berhasil merekatkan masyarakat di wilayah hukumnya. Ini karena kepribadian Oegroseno yang mudah bergaul dengan siapa saja mulai dari kalangan agamawan, akademisi, pemuda, pengusaha, olahragawan, pers hingga kalangan komunitas tertentu seperti komunitas motor gede dan sepeda ontel. Intinya, Oegroseno dapat menjadi sosok saudara, sahabat, dan guru yang baik bagi semua orang.
Ide-ide briliannya selalu bisa menjadi solusi dan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang sebenarnya berpotensi menimbulkan kerugian dan perpecahan.
Ia Kapoldasu pertama, bahkan mungkin satu-satunya Kapolda yang mengajak orang berpantun dalam berunjuk rasa menyampaikan aspirasi.
Idenya ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan dengan fenomena maraknya unjuk rasa menjurus anarkis sejak pascareformasi di berbagai daerah. Ia ingin cara-cara unjuk rasa masyarakat menyampaikan aspirasi dilakukan lewat cara-cara yang santun dan elegan.
Kendati tak sedikit kalangan pesimis idenya ini berhasil, usaha Oegroseno ini tak bisa dipandang sebelah mata. Paling tidak Oegroseno mampu menyelami dan menggali kearifan lokal dari budaya Melayu di Sumut menjadikan sebuah kontribusi mengangkat harkat dan karakter bangsa lewat berpantun.
“Sangat jarang kita menemukan sosok berkualitas berhati tulus, memegang teguh komitmen, dan mengerti nilai-nilai persahabatan tanpa pamrih seperti seorang Oegroseno.” Begitu kata Rahmat Shah yang Anggota DPD RI asal Sumut mengenang sosok kepribadian Oegroseno.
Sumut kehilangan sosok perekat masyarakat yang peduli kepada kesusahan dan keresahan masyarakat, termasuk dalam hal keadilan dan pemberantasan mafia hukum.
Polisi Profesional
Di balik keramahan dan kesantunannya, ia juga dikenal sebagai sosok polisi yang profesional. Ia adalah sosok polisi yang low profile, tegas, berani, sulit berbelok dari suatu masalah, teguh berpendirian, dan sangat berprinsip walaupun harus menghadapi risiko atas karier dan popularitasnya.
Banyak hal yang telah dilakukan Oegroseno untuk membenahi institusi dan mental anggota Polri di Sumut untuk menjadi lebih baik. “JANGAN ADA LAGI AIR MATA DAN DARAH MENGALIR DI KANTOR POLISI” adalah salah satu karyanya yang masih begitu melekat diingatan masyarakat Sumut.
Sebuah slogan yang mengandung pesan dan makna mendalam yang ia canangkan di awal-awal menjabat Kapoldasu. Slogan ini menggambarkan betapa besar keinginan Oegroseno membangun sebuah paradigma baru untuk mengubah imej dan anggapan masyarakat yang terlanjur negatif terhadap pelayanan institusi dan aparat Polri di Sumut selama ini.
Di balik sosoknya yang pengayom dan tenang, ia adalah seorang pemimpin yang tegas dan pengagung kebenaran. Ketegasannya bisa terlihat ketika ia tidak sungkan-sungkan menindak tegas anggotanya yang tak profesional menangani kasus maupun melakukan pelanggaran seperti yang terjadi di Polresta Pematang Siantar dan Polsekta Medan Baru.
Keberanian Oegroseno yang sangat berprinsip dan teguh pada pendirian pada apa yang diyakininya benar juga tergambar saat ia berulangkali menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa di Sumut tidak ada jaringan teroris, kecuali hanya kelompok bersenjata.
Penegasannya ini terkait aksi kelompok bersenjata merampok Bank CIMB Niaga di Jalan AR Hakim Medan di siang bolong hingga menewaskan satu anggota Brimob pada 18 Agustus 2010 dan menyerang Mapolsek Hamparan Perak hingga menewaskan tiga anggota polisi pada 22 September 2010 dini hari.
Bertolak belakang dengan pernyataan pihak Mabes Polri yang saat itu dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri pascaaksi Satuan Densus 88 menggerebek dan menangkap orang-orang yang diduga terlibat jaringan teroris dari sejumlah lokasi di Sumut pada rentang September-Oktober 2010.
Pihak Mabes Polri ‘ngotot’ mengait-ngaitkan para pelaku yang ditangkap Densus 88 tersebut dengan aksi perampokan Bank CIMB Niaga dan penyerangan Mapolsek Hamparan Perak.
Namun Oegroseno seolah tak gentar ‘berseberangan’ pendapat dengan para pimpinan di Mabes Polri kendati betapa ia berhadapan dengan risiko terhadap karier dan popularitasnya.
Ia membuktikan keyakinannya itu dengan kerja keras memimpin jajarannya yang dalam tempo relatif singkat sukses menumpas gerombolan bersenjata api di kawasan Dolok Masihul, Sergai, yang belakangan diketahui terkait aksi perampokan Bank CIMB Niaga dan penyerangan Mapolsek Hamparan Perak.
Kini Oegroseno harus meninggalkan masyarakat Sumut untuk mengemban tugas lebih berat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) Mabes Polri, yakni menyiapkan sosok-sosok calon anggota Polri profesional dambaan masyarakat.
Jika usia pensiun di kepolisian 58 tahun, Oegroseno yang dilahirkan di Jakarta pada 17 Februari 1956 masih punya kesempatan sekitar tiga tahun lagi berdinas di Polri. Semoga jabatan barunya ini bukan puncak dari kariernya di Polri
Dan, masyarakat Sumut meletakkan harapan kepada Kapoldasu yang baru, Irjen Pol Drs Wisjnu Amat Sastro SH untuk meneruskan hal-hal baik yang telah dilakukan Oegroseno sebelumnya.
Masyarakat Sumut berharap Wisjnu Amat Sastro bisa meningkatkan kinerja kepolisian dalam upaya memelihara keamanan dan ketertiban di daerahnya. Wisjnu juga diharapkan dapat bersikap tegas menindaklanjuti kasus-kasus menonjol yang ada seperti narkoba, perjudian, dan mafia hukum.(***)
Posted on Rabu, Maret 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 5 Komentar.
setiap daerah/tempat yg ditinggalkan oleh orang yg punya jejak positif pasti akan merasa dampaknya sekaligus kehilangan.salut utk pak oegro(yg selain nilai plus diatas juga punya tampilan fisik ideal seorang polisi).mudah2an beliau terus maju dalam kariernya.sumut pasti bangga pernah dipimpin beliau.seandainya ada yg mau menuliskan ttg tokoh2 seperti bapak ini dalam bentuk biografi.
emang keren tuh Bpk. Oegroseno.. mantap deh, tetap semangat ya.
terima kasih infonya
haii..salam kenal..sukses slalu
kalo sudah melekat di hati masyarakat…pasti susah buat di lupakan…. semangat pak..