Wakil Presiden Jusuf Kalla, Minggu (22/2) malam lalu menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat.
Meski JK datang dalam kapasitasnya sebagai Wakil Presiden, namun tak urung kedatangannya itu mengundang beragam penafsiran. Apalagi JK kini tidak lagi semata-mata sebagai Wapres, tapi juga sebagai seorang yang telah digadang-gadang menjadi saingan SBY sebagai Capres di Pilpres 2009.
JK yang merupakan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu memang telah menyatakan kesiapannya menjadi menjadi Capres. Ini merupakan langkah maju JK dan Partai Golkar yang selama ini ditunggu-tunggu banyak kalangan, terutama partai politik peserta Pemilu 2009.
Sebab, JK selama ini dinilai banyak kalangan baik di eksternal bahkan internal Partai Golkar, ‘takut’ memunculkan Capres sendiri dan lebih memilih mencari aman dengan tetap berharap digandeng Partai Demokrat yang telah mencalonkan SBY sebagai Presiden.
Sikap JK selama ini yang dianggap terlalu bergantung kepada SBY dengan Partai Demokratnya, dinilai banyak kalangan sangat merugikan Partai Golkar sebagai partai terbesar di Negara ini. Sementara partai politik lain justru terus mendorong agar Partai Golkar memunculkan Capres sendiri untuk bertarung di Pemilu 2009.
Sebab, dengan tidak lagi berkoalisinya Partai Demokrat dengan Partai Golkar, maka partai-partai lain punya kesempatan untuk membangun koalisi dengan kedua partai tersebut, katakanlah seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Bulan Bintang. Keempat partai itu sepertinya siap ‘dipinang’ atau ‘meminang’ untuk menempati posisi Cawapres.
SBY dan JK seyogianya diagendakan bertemu, Senin pekan lalu sepulang dari lawatannya ke Luar Negeri, termasuk AS. Namun, RI-1 dan RI-2 ini batal bertemu. Keduanya batal bertemu diduga kuat ada kaitannya dengan ekses pernyataan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok.
JK konon sempat tersinggung berat dengan pernyataan Mubarok yang meremehkan dan melecehkan Partai Golkar. Mubarok menyebut, Partai Golkar diperkirakan hanya akan mampu meraih 2,5% suara di Pemilu Legislatif 2009. Sementara Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera, masing-masing bakal memperoleh 20% suara.
Pernyataan Mubarok tersebut menyiratkan kalau Partai Demokrat yang menjagokan SBY sebagai Capres tidak akan lagi menggandeng JK di Pilpres 2009 sebagai calon wakil presiden maupun dengan kader lainnya yang diusung Partai Golkar.
JK yang saat itu lagi melakukan kunjungan ke sejumlah Negara termasuk AS, langsung merespon pernyataan Mubarok tersebut dengan menyatakan, Partai Demokrat bakal menuai mimpi buruk di Pemilu 2009.
Reaksi JK tersebut juga spontan disikapi SBY yang langsung melakukan klarifikasi atas pernyataan Mubarok. SBY merasa pernyataan Mubarok itu sangat berpotensi menggaggu ‘hubungan harmoninya’ dengan JK dalam menjalani sisa masa pemerintahan yang tinggal beberapa bulan lagi.
Namun pernyataan Mubarok tersebut ternyata ada hikmahnya. Gara-gara pernyataan Mubarok itu, Partai Golkar kini semakin ‘pede’ untuk memajukan Capresnya sendiri. Meski sejumlah kader Partai Golkar disebut-sebut dijagokan jadi Capres, namun dari sejumlah nama seperti Akbar Tanjung, Surya Paloh, maupun Sri Sultan Hamengku Bowono X, nama Jusuf Kalla diprediksi tampil jadi Capres Partai Golkar di Pilpres 2009.
Langkah politik Partai Golkar ini tentunya cukup melegakan banyak pihak terutama partai politik yang berharap ada nuansa baru di Pilpres 2009.
Kesiapan JK ternyata juga didukung berbagai kalangan, termasuk sejumlah tokoh nasional. Bahkan mantan Ketua MPR RI Amien Rais menilai Partai Golkar sebagai salah satu partai politik besar di Indonesia sudah sewajarnya mengusung calon presiden sendiri.
Sikap politik Partai Golkar ini kata Amien jauh lebih baik daripada menjadikan Partai Golkar seperti partai rental dengan imbalan sekian milyar rupiah agar kadernya bisa menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden dari partai politik lain.
Sedang mantan Presiden DPP Partai Keadilan Sejehtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, juga menilai pencalonan JK menambah alternatif politik bagi masyarakat. Sebab, selain ada “blok S” (SBY) dan “blok M” (Megawati), bakal muncul “blok J” (Jusuf Kalla) di Pilpres 2009.
Karenanya banyak yang berharap, pasca kedatangan JK ke kediaman SBY kemarin, tidak akan membuat langkah politik Partai Golkar berubah. Partai Golkar harus konsisten memunculkan Capresnya sendiri.
Sebab jika sikap Partai Golkar berubah atau malah masih berharap duet SBY – JK atau koalisasi Partai Demokrat – Partai Golkar berlanjut, dampak politisnya akan sangat merugikan Partai Golkar di Pilpres 2009.
Partai Golkar justru sudah saatnya perlu mulai mempertimbangkan untuk meminang partai lain berkoalisi, khususnya dengan PKS yang sejak lama mengisyaratkan kesiapannya berkoalisi dengan Partai Golkar. Bahkan, partai ini dalam berbagai kesempatan tak canggung menyatakan, lebih sreg berkoalisi dengan Partai Golkar ketimbang Partai Demokrat di Pilpres 2009 . (***)

















Seenak-enaknya hidup menumpang di rumah mertua, lebih enak hidup di rumah sendiri. Apalah artinya tinggal di istana kalau hati serasa terpenjara. Lebih baik tinggal di gubuk derita, biar mengontrak, tapi hidup bagaikan raja.










